Revisi RTRW Kota Kotamobagu, Fokus di Pemetaan Wilayah Rawan Bencana

KOTAMOBAGU- Pemerintah Kota Kotamobagu melalui Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan Daerah (Bappelitbangda) kembali merevisi Rencana Tata Ruang Wilaya (RTRW) di 2019 mendatang.

Kepala Bappelitbangda melalui Kepala Bidang Perekonomian Infrastruktur Sumberdaya Alam Ahmad Andi Abasi mengatakan, revisi RTRW dilakukan setiap Lima sekali. Selain itu, adanya ketambahan luas wilayah dan kabar dimana Sulawesi Utara merupakan Zona rawan gempa bumi sehingga perlu adanya revisi RTRW guna memetakan kawasan rawan bencana di Kotamobagu.

“Tahun depan kami akan rencanakan untuk merevisi kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Terkait kabar bahwa Sulut merupakan kawasan rawan gempa, maka RTRW akan menyesuiakan dengan itu. Sudah diinstruksikan dalam peta harus mengunakan peta kawasan rawan bencana. Jadi itu ada peta sendiri yang akan kami susun di RTRW. Disitu misalnya ada daerah patahan atau rawan gempa, kalaupun pembangunan rumah itu dibolehkan tapi ada ketentuan, misalnya itu membangun rumah hanya satu lantai,” kata Kepala Bappelitbangda melalui Kepala Bidang Perekonomian Infrastruktur Sumberdaya Alam Ahmad Andi Abasi, Senin (15/10/2018).

Kata Andi, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait pemetaan daerah rawan bencana di Kotamobagu. “Nanti itu akan akan diatur, kami mintakan dulu peta rawan bencana dari pihak yang berwewenang terkait penyususnan RTRW ini, untuk kotamobagu sendiri ada daerah patahan yang melintas dari beberpa kelurahan, nah itu yang kami sesuaikan di perevisian RDTR nya nanti,” jelasnya

Namun Andi mengatakan, pihaknya masih akan akan melakukan peninjauan kembali sebelum dilakukan revisi. “Jadi sebelum tahapan revisi ada tahapan yang namanya peninjauan kembali, nah itu kemungkinan awal 2019 akan dilakukan penijauan,” ungkapnya

“Dari peninjauan itu akan kita lihat, apakah akan direvisi kembali, atau hanya di Amandemen atau direvisi total, nanti kemudian keluar setelah dilakukan peninjauan kembali, kalau sudah ada maka akan direvisi,” sambungnya

Menurutnya, akan ada perubahan kembali pada RTRW, sebab ada beberapa faktor yang harus disesuaikan seperti adanya ketambahan luas wilayah, pemetaan tentang daerah rawan bencana, perkembangan jaman dan penyesuaian dengan RTRW Provinsi dan Nasional.

Dalam RTRW sebelumnya, sudah dipetakan beberapa wilayah yang akan menjadi sentra potensi, seperti Wilayah Kotamobagu Barat sebagai potensi Perdagangan, Kotamobagu Selatan Pertanian, Kotamobagu Timur Pendidikan dan Kotamobagu Utara Resapan Air bersih.

“Namun lebih Detailnya itu ada di Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Jadi kalau misalnya di diwilayah Kotamobagu barat itu sudah dipetakan sebagai pusat perdagangan, maka akan lebid dirinci lagi melalui RDTR di mana diwilayah tersebut tidak hanya perdagangan saja, tetapi ada juga pendidikan, kesehatan, pertanian dan lain-lain,” jelasnya (al)

Komentar Facebook

Komentar

Baca Juga

Diketinggian 950 MDPL, Nayodo Kukuhkan Tiga Kelompok Petani Kopi

KOTAMOBAGU- Kopi menjadi salah satu komoditi paling primadona di Kota Kotamobagu. Bahkan, pengembangan tanaman ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *