AKTIVIS 98 SIAP GELAR REMBUK NASIONAL, TEGASKAN KEMBALI KE-INDONESIAAN

JAKARTA – Gerakan Mahasiswa 1998 telah mendesak pemerintahan yang berkuasa untuk melakukan reformasi total. Kini peristiwa gerakan reformasi tersebut telah genap 20 tahun berlalu. Gerakan moral yang diinisiasi dan dipimpin para aktivis mahasiswa 1998 berhasil mengubah negara Indonesia menjadi demokratis. Partisipasi politik rakyat sipil yang sebelumnya terbelenggu menjadi bebas dan terbuka. Masyarakat sipil bebas berbicara, berpendapat dan menyalurkan aspirasinya melalui institusi-institusi demokrasi yang ada.

Mereka yang hidup pada masa Rezim Soeharto bisa merasakan langsung perbedaan atmosfer politik dengan pasca Soeharto. Pada Era Reformasi, rakyat menghirup udara segar. Menikmati rasanya terbebas dari belenggu politik Rezim Orde Baru yang sangat otoriter dan menindas hak-hak politik masyarakat sipil. Persoalannya, sistem demokratis yang telah diperjuangkan dengan segenap pikiran, tenaga, air mata dan darah para Aktivis 98 tersebut dalam 20 tahun terakhir justru dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang mengusung ideologi trans nasional untuk menumbuh suburkan radikalisme, intoleransi dan teorisme. Peristiwa Bom di Kedubes Piliphina awal tahun 2000-an, Bom Bursa Efek Jakarta (sekarang: BEI), dan Bom Bali merupakan manifestasi dari radikalisme dan perilaku intoleran. Termasuk bom di Surabaya beberapa waktu lalu yang dicatat dunia sebagai family suicide bomber pertama.

Peristiwa bom di Surabaya menunjukkan kebenaran dari hasil Survai Wahid Foundation tentang radikalisme dan intoleransi terhadap 1.520 responden pada 2017, menunjukkan data yang membuat para aktivis miris. Sebanyak 11 juta orang atau 7,7 persen dari total populasi di Indonesia mau bertindak radikal. Dari Survai tersebut juga diketahui 0,4 persen penduduk Indonesia, sekitar 600 ribu orang pernah bertindak radikal.

Belasan tahun kami memilih diam, dan mengamati fenomena radikalisme, intoleransi dan terorisme, dan menyerahkan penanganannya kepada pemerintahan yang ada. Kini setelah dua puluh tahun, kami secara bersama memandang tidak boleh diam. Aktivis 98 yang memiliki hak sejarah atas perubahan di Indonesia harus meluruskan dan melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang terus-menerus mengikis orientasi kebangsaan rakyat Indonesia. Itulah alasan kenapa diperlukan Rembuk Nasional, pada 07 Juli 2018. Forum Rembuk Nasional tersebut diperlukan untuk menegaskan kembali ke-Indonesiaan.

Panitia terus melakukan konsolidasi untuk memastikan seluruh jaringan aktivis 98 menghadiri perhelatan yang sangat penting untuk meneguhkan Konsensus Founding Fathers atas Pancasila sebagai Dasar Negara. Hingga H-27, seluruh tim konsolidasi telah bergerak di 28 Provinsi di Indonesia. Tim ada yang bergerak melalui jalur darat, laut, maupun udara untuk meningkatkan tekad Bergerak Bersama. (***)

Panitia Rembuk Nasional

Juru Bicara Siaran Pers:

  1. Abdul Wahab Talaohu (Unija)  Hp: 0811115557
  2. Sayed Junaidi Rizaldi Alhinduan (UPN Veteran), Hp: 085264005411
  3. Hengki Irawan (IISIP), Hp: 081219114945
  4. Julianto Hendro Cahyono (Univ. Trisakti), Hp: 08161843155
  5. Fendi Mugni (UKI), Hp: 08121033544
  6. Abdullah (IKIP Jakarta), Hp: 082210025528
  7. Faizal Assegaf (UMB), Hp:  081218602119
  8. Azmi Abubakar (ITI), Hp: 081294052035
  9. Nuryaman Berry (Untag Jkt), Hp: 087887691550
  10. Benny Rhamdani (Unsrat, Sulut), Hp: 081295219313
  11. Sarbini (Untag), Hp: 0818855062

Komentar Facebook

Komentar

Baca Juga

Sekda Bolmut Hadiri Dzikir Akbar Sambut Ramadhan 1439 H

Sekretaris Daerah (Sekda) Bolmut Dr. Drs. Asripan Nani, M. Si menghadiri Dzikir Akbar dalam rangka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *