KOMPETENSI BIROKRAT MENUJU BOLMOMG HEBAT

KOMPETENSI BIROKRAT MENUJU BOLMOMG HEBAT

Oleh : Abdussalam Bonde

Senin (6/11/2017), Bupati Bolaang Mongondow Dra. Hj. Yasti Soepredjo Mokoagow secara resmi menutup acara Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklat PIM III) yang diikuti 40 pejabat eselon III di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow.

Salah satu fenomena yang menarik untuk disimak pada acara itu adalah ketika Bupati secara acak menggilir peserta Diklat PIM III untuk mempresentasekan hasil projek perubahan dihadapan para peserta dan undangan. Nampak memang Bupati ingin menguji pengetahuan, keahlian, dan penguasaan informasi dan tehnologi (IT) para calon pembantu-nya itu–untuk menjalankan mesin birokrasi. Sehingga tak ada lagi istilah Bupati-nya tancap gas dengan kecepatan 160 km/jam, sementara Organisasi Perangkat Daerah (OPD)-nya hanya jalan santai–kayak kura-kura.

Tentu dengan ditopang oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kompeten, maka parameter penilaian kinerja tiap OPD dapat terukur. Terutama para kepala OPD dan jajaran-nya. ASN yang memiliki kompetensi adalah dasar keberhasilan birokrasi dalam mencapai visi dan misi pemerintah. Untuk itu kompetensi ASN harus terus di-upgrade sesuai dengan tuntutan masyarakat dan tuntutan global, sehingga pelayanan publik yang prima di seluruh unit pelayanan publik pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Lalu bagaimana cara mengindikasikan seorang ASN dikatan memiliki kompetensi?. Menurut pendapat dosen saya saat memberikan mata kulia ″Perilaku Manajerial″ menyatakan bahwa kompetensi ialah;  ″seperangkat tindakan cerdas penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu″.

Adapun definisi kompetensi menurut Raymond A, Noe, adalah ″area kemampuan pribadi yang memungkinkan karyawan untuk berhasil menjalankan pekerjaan mereka dengan mencapai hasil atau menyelesaikan tugas″. Jadi, kompetensi berarti pengetahuan, kemampuan, serta sikap dan nilai, atau karakteristik personal lainnya yang harus dimiliki oleh ASN pada posisi tertentu, agar dia sukses dalam mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan. Faktor kemampuan, pengetahuan, sikap, nilai dan karakteristik personal lainnya ini–jika diperas menjadi yang lebih sederhana terangkum kedalam unsur kecakapan atau skill (keahlian). Keahlian ini inti dari kompetensi yang nantinya akan menentukan kualitas kinerja ASN. Memang tidak semua ASN terampil, tapi semua yang bisa melakukan pekerjaan mereka dengan kualitas output atau kinerja yang tinggi adalah orang-orang yang ahli atau kompeten.

Dalam konsep manajemen SDM, kita mengenal tiga keahlian dasar yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan organisasi. Tiga hal itu ialah; Pertama,  technical skill (keahlian teknis) yang mencakup pengetahuan tentang metode, proses dan prosedur teknis untuk melaksanakan kegiatan. Kemampuan untuk menggunakan sarana peralatan, aplikasi tehnologi, atau teknik-teknik tertentu yang berkaitan dalam suatu pekerjaan. Keahlian teknis ini adalah suatu karakter terampil yang harus dimiliki oleh ASN. Kedua, human skill (keahlian bersosialisasi/unsur manusiawi) ialah kemampuan untuk bekerja dengan memahami dan memotivasi pegawai lain agar kinerjanya dapat secara efektif menunjang torganisasi. Kemampuan berkomunikasi secara jelas, kemampuan menciptakan kerjasama yang efektif, kooperatif, praktis dan diplomatif. Ketiga, keahlian conceptual skill (konseptual) adalah kemampuan analisa, kemampuan berfikir sosial, dan cakap dalam berbagai konsepsi. Kemapuan memandang perjalanan organisasi seacara makro,  hubungan antar unsur di dalamnya, dan mampu mengkondisikan organisasi dengan factor-faktor eksternal. Keterampialn memecahkan berbagai probelm untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan semua kepentingan dan aktivitas organisasi. Keahlian konseptual ini, sejatinya adalah milik para pemimpin dalam struktur tertinggi organisasi–top manajer.

Keahlian-keahlian diatas merupakan penyesuaian terhadap tuntutan globalisasi teknologi dan sistem informasi yang tidak pernah berhenti melakukan inovasi dari waktu ke waktu. Satu unsur saja–jika para administrator tidak mampu meningkatkan keahliannya untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan perangkat yang lebih maju seiring dengan adanya perkembangan tehnologi digital, maka dapat dipastikan perannya akan semakin tersisikan. Atau dengan kata lain eksisitensinya dalam organisasi tidak dapat berjalan maksimal. Begitu pula dengan pengembangan manajeman SDM yang harus ditingkatkan oleh para pejabat tinggi birokrasi yang dikondisikan dengan perkembangan global. Paradigma-paradigma yang sudah tidak up to date dan tidak sinkron dengan kondisi yang terjadi saat ini sudah saatnya ditinggalkan atau dibuang jauh-jauh dan diganti dengan paradigma terkini.

Sudah menjadi ketentuan logis dalam menajemen modern yaitu; bahwa dalam rangka mempertahankan eksistensi organisasi, maka penyesuaian terhadap perubahan lingkungan strategis harus senantiasa dilakukan. Meskipun sesenjangan pengetahuan, keahlian, dan penguasaan informasi dan teknologi antar-personal dalam birokrasi itu berbeda-beda. Ada ASN yang sangat dekat dengan setiap perubahan dalam inovasi teknologi dan sistem informasi, sementara disisi lain masi banyak ASN yang tidak tersentuh dengan perkembangan teknologi dan informasi. Pada saat ada ASN terekrut dilingkungan birokrasi–dan membawa inovasi-inovasi teknologi terbaru, maka mereka yang tidak tersentuh dengan arus globalisasi akan mendapatkan kesulitan untuk bersosialisasi, karena faktor mungkin sudah terbiasa dengan menajemen manual. Kondisi ini akan menyebabkan pelayanan publik tentu akan begitu-begitu saja, tidak perna akan mengalami perubahan, apalagi jika yang menduduki jabatan strategis adalah para pejabat yang ″gaptek″, tidak memahami perkembangan teknologi terkini, maka hal ini akan menghambat perjalanan kerja pemerintahan.

Sesuai dengan SMART ASN, setiap aparatur birokrasi di tuntut untuk berwawasan global, mengusai IT/Digital dan bahasa asing, serta memiliki daya networking tinggi. Dalam konteks Bolaang Mongondow, tantangan ini bukan saja hanya terkait dengan lemahnya sumber daya ASN kita saat ini, namun unsur hardware dan software pun masi sedikit tertinggal sebab masih banyak aparatur birokrat yang miskin konsep, gagap teknologi, dan tidak memiliki jaringan/akses yang kuat. Oleh karena, untuk mewujudkan cita-cita ″Bolaang Mongondow Hebat″, kompetensi aparatur birokrat harus di dongkrat dengan menempatkan para pejabat yang benar-benar kompak dan expert. Memang Bolaang Monngondow sudah memiliki kepala daerah yang hebat tidak hanya dari sisi konseptual tapi memiliki jaringan yang luas. Didukung pula dengan panglima ASN ( Setda ) yang profesional, namun jika para pembantunya tidak memiliki expert, mustahil kita dapat mencapai keinginan publik. Saat ini tuntutan publik semakin besar terhadap perbaikan pelayanan publik, maka dari itu perlu adanya perubahan dan keputusan cepat dan bijak yang berorientasi pada kepuasan publik. Dengan demikian pandangan-pandangan negatif seputar pelayanan publik orde sebelumnya dapat dan diminimalisir, termasuk dosa warisan yang menyebabkan Bolaang Mongondow berkali-kali disclaimer.

Penulis, adalah DPD Pemuda Muhammadiyah Bolmong, Orang Doloduo

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *