Dinas Pertanian dan Perikanan Larang Potong Sapi Betina Produktif

Dinas Pertanian dan Perikanan Larang Potong Sapi Betina Produktif

Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Kotamobagu, melarang peternak untuk tidak memotong sapi betina yang masih produktif, dikarenakan berpotensi menurunkan produksi bahkan kelangkaan ternak di kotamobagu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperkan) Kotamobagu Hardi Mokodompit. Pihaknya saat ini telah menyampaikan larangan itu ke masing-masing penyuluh peternakan dan mantri hewan, agar disampaikan kepada para peternak sapi, serta tunkang potong sapi yang ada dikotamobagu untuk tidak lagi memotong sapi betina yang masi produktif.

“Lebih baik jangan memotong sapi betina, boleh juga sapi betina, tetapi sapi yang sudah tidak produktif lagi. Sebab misalnya sapi betina masih produktif dipotong, maka potensi ternak sapi di kotamobagu akan berkurang,”ujar Hardi saat ditemui media ini usai Membuka Sosialisasi Pengendalian Pemotongan Sapi Betina Produktif Belum lama ini.

Menurut Hardi, sebenarnya larangan memotong sapi betina produktif itu, bukan kali ini saja, akan tetapi sudah diberlakukan diseluruh Indonesia karena ini program dari pusat.

Dasar hukum tentang larangan memotong sapi betina produktif ini, adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Ketentuannya tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) yang menyebutkan bahwa ternak ruminansia betina produktif dilarang disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik,” kata Hardi.

Kecuali, sambung dia, untuk keperluan penelitian, pemuliaan atau untuk keperluan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan.

Ketentuan larangan ini tidak berlaku, apabila sapi betina itu telah berumur lebih dari 8 tahun atau sudah beranak lebih dari 5 (lima) kali, atau tidak produktif lagi yang dinyatakan oleh dokter hewan atau tenaga asisten kontrol teknik reproduksi di bawah penyeliaan dokter hewan.

“Atau sapi betina itu mengalami kecelakaan yang berat, cacat tubuh yang bersifat genetis yang dapat menurun pada keturunananya sehingga tidak baik untuk ternak bibit,” katanya. (Fit)

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *