MOMOSAD “Kekuatan dan Semangat yang hilang”

MOMOSAD “Kekuatan dan Semangat yang hilang”

Kekuatan dan Semangat  yang lahir dari peradaban primitif di jazirah Totabuan ini, tumbuh dan bangkit bersama dengan masyarakat Bolaang Mongondow, menumbuhkembangkan semangat kekeluargaan, empati, serta solidaritas tanpa tendensi. Momosad adalah Kekuatan dan semangat untuk membangun secara bersama – sama tanpa memandang kasta.

Budaya ini tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan leluhur masyarakat Bolaang Mongondow dalam rangka membangun sebuah kehidupan yang lebih baik. Kegiatan umumnya dilakukan untuk pembukaan lahan kebun baru (MONALUN), Momunak (istilah yang digunakan untuk menanam Jagung atau Kacang Tanah), Mongatok (menanam padi ladang) dan lain sebagainya. Proses ini terus berlanjut pada medio menuai hasil kebun, Moropit Kon Toigu (Memanen Jagung) morabut kon kasang (Memanen Kacang Tanah) serta mokoyut (Memanen padi Ladang).

Dalam Kegiatan MOMOSAD  banyak hal yang di Tanamkan oleh Leluhur dimasa keemasannya, Sikap mental  yang tumbuh menjunjung tinggi nilai kebersamaan, tidak adanya  kewajiban mengupah kepada mereka yang menjadi bagian dari kegiatan ini, selain sekedar untuk makan serta minum, selanjutnya menumbuhkembangkan semangat kekeluargaan, ajang Silaturahmi  serta ruang mencari jodoh bagi kaum muda – mudi.

Kegiatan – kegiatan antara yang berlangsung dalam Budaya MOMOSAD ini, sarat dengan makna, Biasanya ini berlangsung antara 2 (dua ) sampai dengan Tiga (3) hari. Pada malam hari dilangsungkan  kegiatan hiburan Mo Kuti Kon Gamus, Momantung bo Mo Dana, dimana syair – syair pantung yang dilantunkan berisi pesan moral, atau mendengarkan O uman In Mogoguyang (Cerita Tentang Nenek Moyang) sampai dengan penjelasan tentang sinsilah keluarga.

Makna hakiki MOMOSAD kini telah bertransformasi menjadi kegiatan bersifat komersil (bagi masyarakat yang masih menjalankan kebiasaan ini) karena hak  posad (bagi yang ikut kelompok MOMOSAD) dialihkan untuk mengerjakan pekerjaan yang berbayar, walaupun sesungguhnya ini juga tidak keliru.

Harapan tentang kekuatan dan Semangat tidak semata – mata menyentil lagi soal jargon JUMPA MOPOSAD, sebab inipun bisa di soal karena semangat MOMOSAD adalah membangun bersama bukan sekedar sebuah perjumpaan, Apalagi berkaitan dengan LIPU MODARIT, LIPU MOSEHAT  ini dimaknai untuk “satu” semangat saja meraih Adipura.

Kerinduan akan suasana ini mengelitik Naluri ketika pemekaran Provinsi Bolaang Mongondow Raya masih bergulir terkesan para elit tidak solid, sejatinya  Kekuatan dan semangat MOMOSAD ini diadopsi oleh para pemimpin di BMR apakah yang di daerah, Provinsi serta di Pusat untuk kemajuan Bolaang Mongondow Raya. (Arman Mokoginta)

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *