Mahasiswa S2 IPB Asal BMR Jadikan Tempurung Pemurni Limbah.

Mahasiswa S2 IPB Asal BMR Jadikan Tempurung  Pemurni Limbah.

JAKARTA, Suarabmr.com – Mahasiwa S2 Asal BMR teliti Karbon Tempurung Kelapa Jadi Pemurnian Limbah Cair, dengan potensi dari Hasil lahan yang sudah digunakan dalam sektor pekebunan kelapa di daerah BMR Sebesar 12.073 Ha atau Produkisi kelapa sebesar 68.513 Ton tahun 2013 Tersebar di 4 Kabupaten masing-masing, Bolaang Mongondow 32869Ton/3265Ha, Bolaang Mongondow Utara 14552Ton/4200Ha, Bolaang Mongondow Selatan 12081 Ton/1570Ha dan Bolaang Mongondow Timur 9011Ton/3265Ha.

Salah satu limbah kelapa (Tempurng Kelapa – Red) ini dijadikan bahan oleh Rinto Paputungan, seorang Pemuda Asal Bolaang Mongondow Selatan, yang juga bagian dari Pemuda Tani Indonesia yang saat ini lagi menyelesikan Study S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Mengangat Tema Penelitian Tugas Akhir “Pemanfaatan potensi daerah melalui aktivasi karbon aktif tempurung kelapa sebagai Pemurnian limbah cair” dengan harapan Pemuda ini Pulang ke daerah bisa membuat lapangan kerja baru dengan memanfaatkan potensi daerah LIMBAH Kelapa (Tempurung Kelapa) dibuat menjadi Arang Aktif yang memiliki nilai Ekonomi yang tinggi, karena besar manfaatnya.

Arang aktif merupakan produk yang banyak digunakan di dalam negeri. Hampir 70% produk arang aktif digunakan untuk pemurnia dalam sektor industri gula, minyak kelapa, farmasi dan kimia, semoga ini bisa diterapkan didaerah, jelas Paputungan

Lebih lanjut Ia menambahkan jika dilihat dari fakta kondisi dilapangan, hasil kopra khusus di BMR sudah tidak terlihat lagi, dikarenakan biji kelapa langsung dijuak ke pihak kedua, alhasil tempurung kelapa sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. muda- mudahan kedepan saya menghimbau kepada seluruh petani kopra di BMR untuk memanfaatkanaa potensi yang ada, untuk menopang perekonomian petani kopra dan masyarakat Timpal Rinto.(chan)

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

1 Komentar

  1. sofyanti

    Ini dia langkah inovasi yang patut didukung oleh pemerintah daerah BMR, kenyataannya limbah tempurung masih terbuang percuma di wilayah totabuan. Jelas butuh sentuhan inivasi tinggi untuk memperkuat geliat ekonomi yang berbasis pada limbah perkebunan yang sempat dilirik

    Balas

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *