MONIBI Ritual Adat di Ambang Kepunahan

MONIBI Ritual Adat di Ambang Kepunahan

(Pengorbanan, Penyembahan, Terhadap Roh Nenek Moyang)

Monibi adalah Ritual Nenek Moyang Bolaang Mongondow yang dilaksanakan untuk Pengorbanan, Penyembahan terhadap Roh Nenek Moyang, Ritual ini Biasanya di adakan oleh Desa (Kampung) dalam Rangka Tolak Bala (mongundam Kon Lipu) di mana melibatkan Pemimpin Desa, (Sangadi) Para Tetua Adat dan Seluruh Masyarakat Kampung.

Ritual ini biasanya di adakan Paska Panen Raya, sebagai bentuk kesukuran terhadap Roh Leluhur yang telah menjaga seluruh hasil perkebunan sehingga mendapatkan Panen yang melimpah.

Begitu juga sebaliknya apabila ada kejadian atau bencana alam yang menimpa desa, atau ada kejadian yang menimpa sebagia masyarakat Desa (sakit Misalnya) atau ada wabah penyakit maka Ritual ini juga dilaksanakan untuk Tolak Bala (Mongundam Kon Lipu’)

Kegiatan ini di awali dengan persiapan tempat pelaksanaan Monibi, Biasanya di Tempat ketua adat yang menjadi pemimpin dalam Ritual ini, atau di Rumah Sangadi (kepela Desa) dengan membuat Tenda Besar (LOS) untuk tempat pelaksanaan, kemudian di dalamnya di buatkan Sigi tempat menaruh Sesajen, yang terbuat dari Bambu Kuning, kemudian Polapag yang berbentuk singga sana, sebagai tempat duduk bagi Para leluhur yang akan di Undang (kapoyon) pada pelaksanaan Ritual Monibi.

Kegiatn ini biasanya dilaksanakan selama Tiga Hari, hari pertama persiapan seluruh perangkat dan tempat bagi pelaksanaan ritual.

Hari kedua, seluruh masyarakat akan mengumpulkan pakayan dan benda – benda Pusaka peninggalan untuk di kumpulkan di satu tempat di dalam LOS (tenda) untuk kemudian di berkati pada pelaksanaan Ritual. Selanjutnya masyarakat secara bersama – sama memasak seluruh kebutuhan pelaksaan sesajen (Mopokaan) dimana bahan – bahan nya antara lain :

Masi pada hari kedua, ritual di awali dengan memotong seluruh hewan persembahan dari Masyarakat (hewan persembahan ini tergantung dari kemapuan Warga) Mulai dari Ayam, Babi, Bantong (Anoa) dan Lain sebagainya, belakangan karena penduduk bolmong mayoritas memeluk Agama Islam Babi di Ganti dengan Kambing, dan Anoa karena sudah sulit menemukan diganti dengan sapi.sebagian dari persembahan ini akan dimasak untuk leluhur dan sebagian akan di makan oleh Warga, untuk hewan persemabahan ini setiap kepala Keluarga harus mempersembahkan minimal satu hewan Persembahan.

Malam Harinya Kegiatan Ritual akan di Mulai dengan Mopolitu Kon Duataan (Orang yang akan kemasukan Roh Leluhur) untuk kemudian berdialog terkait dengan tujuan dan pelaksanaan ritual, kemudian melakukan pengobatan secara individu bagi warga masyarakat. Sambil seterusnya melakukan petunjuk dan arahan bagi masyarakat terkait dengan Bencana, sakit atau wabah yang dialami oleh Warga.

Pada hari ketiga Ritual ini di mulai dengan memanggil Roh Para Leluhur lewat perantara Orang (Pemuda) biasanya yang di gunakan sebagai media perantara yang di pimpin oleh tetua Adat dalam Mokapoi (memanggil) Roh leluhur, kemudian di arahkan ke Sigi dan di persilahkan duduk di Polapag yang telah di siapkan, untuk diberi sesembahan yang telah di letakkkan terlebih dahulu di Sigi.satu persatu Roh Leluhur di panggil untuk diberi sesajen (Mopokaan)

Selanjutnya pada acara puncak seluruh masyarakat satu persatu disiram dengan air yang ditampung pada wadah bambu (Tandai) sebagai bentuk tolak bala, yang disiramkan oleh tetua Adat.

Selesai ritual ini maka roh leluhur yang dipanggil tadi akan di pulangkan lewat cara yang sama. Maka seluruh rangkaian Ritual Monibi selesai.

Alat

  • Tombak
  • Benda Pusaka lainnya

Bahan

  • Telur Burung Maleo (Natu Tuanggoi)
  • Koito (sagu)
  • Beras Ketan Merah (yang di olah dengan cara di tumbuk)
  • Beras ketan Biasa
  • Beras biasa
  • Anoa (Bantong)
  • Babi
  • Ayam
  • Kambing
  • Bambu
  • Kulipot
  • Kelapa (bango)
  • Kelapa Muda (tenggelan)
  • Janur Kuning
  • Dan Lain – Lain

Oleh, Arman Mokoginta

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *