Merdekakan BMR Dari Provinsi Sulut !

Merdekakan BMR Dari Provinsi Sulut !

Kotamobagu, Suara BMR – Tulisan ini hadir sebagi pengingat pada kita semua soal Kejayaan Tanah Indah Nan Kaya, Ragam Bahasa didalamnya di ikat adat yang kuat, jati diri orang mongondow dan kekuasaan para leluhur pendiri Tanah Totabuan yang dikenal kesatria sebagaimana cerita para orang tua, yakni sosok Tubuh kekar dan besar lengkap dengan alat perang, dia adalah Bogani in Totabuan. Panglima perang yang ditakuti dan disegani, sebab tak hanya postur tubuhnya yang raksasa tapi kekuatan mejik pemberian sang pencipta menjadikan dirinya tak terkalahkan.

Namun fakta itu telah lenyap nyaris tidak berbekas, cerita itu berlalu seperti dongeng pengantar tidur, jika benar adanya sejarah itu, maka saya berpikir para kesatria-kasatria itu telah lupa mewariskan kekuatannya untuk menjaga Bumi tanah kita tercinta dari para perampok kekayaan negeri ini.

Hutan membentang luas nyaris ludes oleh para penjarah yang lapar, diambil atas nama kekuasaan dan pembangunan. Pun isi perut bumi digali diambil atas nama pembangunan, bahkan hasil perkebunan petani dikebiri dengan harga murah, dirampas atas nama pembangunan.

Bolaang Mongondow negeri kaya raya penyumbang PAD terbesar bagi Provinsi sulut dari jaman dulu hingga kini, para penguasa dinegeri kita sendiri yakni keturunan kaum Bogani telah terlena akan buaian lembut dan rayuan indah, Mereka terlena nyanyian racun janji dan omong kosong belaka yang berkepanjangan, berpuluh tahun sudah kita menjadi budak para petinggi di lingkaran Pemerintah Provinsi.

Seandainya kita tidak memekarkan Kabupaten Bolaang Mongondow menjadi lima Otonom, maka sudah dipastikan kondisi wilayah Bolmong masih jadul alias kampungan, terisolasi dari berbagai informasi ilmu pengetahuan.

Rasa syukur yang besar kepada Mantan Bupati Bolmong Marlina Moha Siahaan, menghidupkan semangat leluhur nenek moyang negeri ini Inde Do’u, yang Mau berbagi kekuasaan dengan memekarkan Bolmong menjadi 4 Kabupaten dan satu kota, aliran dana dari pusat menyebar kelima Daerah untuk laju pembangunan di Totabuan yang telah tertinggal jauh dari Daerah lainnya di Sulut.

Hari ini kita telah terbangun dari tidur panjang, sadar dari pembodohan dan kecurangan yang dilakukan secara berulang ulang, dari masa ke masa. Di setiap pergantian Pimpinan Kepala Daerah Provinsi Sulut.

Kita telah berani menentukan sikap, untuk maju tanpa terhalang lagi, para arwah leluhur seolah bangkit dari kuburnya dan memerintahkan kepada anak cucu agar membebaskan diri dari perlakuan ketidak adilan, melawan tirani dari penjajah, Bangkit ! dan Wujudkan PBMR. Agar kejayaan para raja dapat dinikmati kembali di era kini dan mendatang.

Kaum pemberani itu menyatu membentuk yang namanya Panitia Pemekaran, dibawah kepemimpinan Abdulah Mokoginta, Drs.Djainudin Damopolii dan anggota presedium lainnya, dengan modal nekat menerobos masuk hingga ke pusat, membawa kriteria dan prasyarat meski hingga dengan saat ini belum diwujudkan, sebab menunggu penetapan bersama Daerah lainnya di DPR RI komisi II.

Gebrakan para putra terbaik negeri tanah Bogani, telah mampu menampar para elit pemerintahan Provinsi Sulut, yang selama ini terkesan tidak mau melepaskan sumber Pendapatan terbesar di Sulut untuk bisa mekar.

Kini dimomen Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, secara bergantian para kandidat datang di Bolmong raya menyampaikan janji yang sering di ingkari, yakni akan memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita masyarakat Bolmong untuk mekar menjadi daerah otonom baru yakni Provinsi Bolaang Mongondow raya PBMR.

Datang dengan wajah tanpa dosa dihadapan rakyat, berjanji memekarkan BMR menjadi Provinsi. Bumi Totabuan memang sedang menghadapi Musim Kecap manis, Ramuan Gulanya ada yang sedang-sedang saja Hingga ada kadar Gulanya yang Luar Biasa. Nah soal itu memang sudah biasa dipemusim Pilkada.

Namun bagi saya pribadi, Pemilihan Kepala Daerah Secara serentak diseluruh Indonesia, ada pengecualian secara khusus untuk Pilgub Sulut. Terlebih jika kita bicara soal Kepentingan Bolmong Raya, memiliki luas wilayah 50,3% dari luas wilayah Sulawesi Utara, Jumlah Penduduk yang mencapai Kurang Lebih 800 Ribu dengan Wajib Pilih mencapai kurang lebih 500 Ribu. Dikelilingi Sumber Daya Alam baik Hutan,Pertambangan, Perkebunan dan laut.

Potensi Sumber Daya itu menjadi Kekayaan di Sulut, aset besar yang mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tanah Totabuan dikenal dengan Lubung Beras kualitas terbaik. Nyaris negeri yang diwariskan para Bogani ini sangat Paripurna.

Keparipurnaan Negeri   dalam sejarah Tanah ini, abad ke-XIX terdapat 5 kerajaan Yang terbesar yakni, Kerajaan Bolaang Mongondow. Lalu kerajaan Bolaang Uki, di tahun 1850-an masih disebut Kerajaan Bolaang (Bangka). Berikutnya Kerajaan Bintauna (Binta Oena), Kerajaan Bolaang Itam dan Kerajaan Kaidipang. Pada tahun 1912 bergabunglah kerajaan Bolaang-Itang dengan kerajaan Kaidipang menjadi Kerajaan Kaidipang Besar.

Sejarah mencatat Kerajaan Bolaang Mongondow dipimpin sedikitnya 24 Raja dimulai dari Punu’ Mokodoludut tahun 1400 – 1460 Hingga pada Raja terakhir , Henny Yusuf Cornellius Manoppo Tahun 1947-1950.

Kerajaan Kaidipang didirikan oleh Pugu pugu Maurits Datubinangkal Korompot, Kerajaan Bintauna didirikan oleh Datu Solagu atau Datunsolang. Raja pertama Kerajaan Bolangitang adalah Salmon Muda Pontoh dan terakhir yaitu Raja Ram Suit Pontoh (R.S.Pontoh)

Sejarah Tanah kita mencatat, 4 Kerajaan besar itu menyatu menjadi Satu Wilayah yang besar bernama Kabupaten Bolaang Mongondow. Dengan Bupati Pertama Anton Cornelis Manoppo Tahun 1954. Hingga pada kepemimpinan Bupati ke 12 yakni Ny Hj Marlina Moha Siahaan (Mei 2000-Mei 2006/Mei 2006-Mei 2011) 2 periode. Dimana Kabupaten Bolmong membentuk 3 Kabupaten Baru dan satu kota.

Historis panjang perjalanan BMR menjadi nilai tawar tinggi bagi kita masyarakat Bolmong, bahwa tanah adat mongondow memiliki sejarah panjang dalam kekuasaannya, namun sekali lagi harta kekayaan Bumi totabuan hanya menjadi sumber untuk dikuras, perencanaan pembangunan di Bolmong bersatu melalui APBD Provinsi selama ini sering dikesampingkan, sejak dari dulu hingga saat ini.

Transparansi dan akutanbilitas APBD Provinsi untuk program pembangunan di Bolmong bersatu tidak pernah dipublis, sehingga arah pembangunannya pun tidak jelas mana Anggaran yang bersumber dari APBD empat kabupaten dan satu kota di bolmong Raya.

Sadar dengan tipu muslihat kaum borjuis yang sukses merampok sumber daya alam dinegeri tanah kelahiran para Bogani, mestinya kita bangkit dan melawan, bersama melucuti identitas kepentingan lainnya demi mewujudkan PBMR dengan satu semboyan yakni Merdeka dari Provinsi Sulut ! sekalipun nyawa taruhannya ! Demi Provinsi Bolaang Mongondow Raya….

 

Penulis : Jo Mondo Gulama

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *