Walikota Tidak Serius Mendorong Usaha Sektor Ril

Walikota Tidak Serius Mendorong Usaha Sektor Ril

Kotamobagu, Suara BMR – Kepemimpinan Walikota Kotamobagu Ir.Hj.Tatong Bara dalam dua Tahun kepemimpinannya, meski banyak meraih Prestasi gemilang, dengan penilaian Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam pengelolaan keuangan daerah, nampaknya belum cukup dimata para pengusaha kecil.

Sebagaimana dikatakan oleh Aktivis Robianto Suid, S.Hut. pada SuaraBMR.com. (17/10/2015) yang mengatakan bahwa Walikota Kotamobagu Tidak serius mendorong usaha sektor Ril.

“Seharusnya jika benar Walikota ingin menjadikan Kotamobagu sebagai kota Jasa, maka hal yang mendasar segera dilakukan pemerintah adalah bagaimana mendorong usaha-usaha sektor Ril di kotamobagu, ini agar pertumbuhan ekonomi Kotamobagu berkembang cepat.” Tegas Robianto

Menurutnya Pemerintah harus merecovery lagi Regulasi yang berkaitan dengan sektor usaha dengan menciptakan Iklim investasi yang mudah bagi kalangan pengusaha.

“Banyak sekali UMKM maupun UKM yang membutuhkan sentuhan dari pemerintah kota lewat Program-program Pemerintah lewat Disnaker, Dinas Koperasi, dan Dinas Sosial yan g menggalang pengusaha kecil dan menengah untuk mendorong usaha mereka, sehingga roda perekonomian Kotamobagu berjalan baik dan pertumbuhan ekonomi kita bisa tumbuh cepat.” Jelas Suid Mantan Komisioner KPU.

Menariknya Aktivis Jebolan HMI Angkatan Tahun 2000 ini mencontohkan soal Dinas yang hanya terjebak pada persoalan personal saja.

“Saya mencontohkan soal Disnaker Kotamobagu, yang hanya terjebak mengurus masalah-masalah personal ketenaga kerjaan saja. Harusnya yang dilakukan adalah bagaimana menggalakan pelatihan kerja secara periodik, sehingga akan mendorong masyarakat yang berdaya saing, mampu membuka peluang-peluang usaha, membuka lapangan kerja sehingga Roda perekonomian bergerak cepat.” Terang Robianto Suid yang lebih akrab dipanggil Bung Oby Mantan Ketua KNPI Kotamobagu.

Lanjutnya lagi mengatakan.” Kalo dulu, ada namanya KLK yakni tempat pelatihan ketrampilan kerja bagi pemuda dan masyarakat, tapi sekarang sudah tidak ada lagi, sementara sesuai data Statistik bahwa jumlah pengangguran dikota kotamobagu meningkat 45% di tambah lagi dengansetiap tahun jumlah pencari kerja kita bertamba, dan didominasi oleh usia pencari kerja produktif antara 17 – 30 tahun. Kita bisa bayangkan setiap tahunnya lulusan SMK dan SMU atau Sarjana di Kotamobagu tidak bisa berbuat banyak, sehingga jalan satu satunya selain hanya menjadi karyawan Pemerintah ataupun karyawan swasta. Contohnya berbondong bondong menjadi PNS ataupu Honorer. Ini terjadi , disebabkan tidak ada Sektor Ril Ekonomi yang didorong dan ditambah lagi Pemerintah Kotamobagu, sepertinya belum ada Grand Strategi jitu untuk membangun Sistem Investasi di Kotamobagu. ” Pungkas Robianto Suid. S,Hut.

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *