REKONSILIASI PARADIGMA PEMUDA DAN MAHASISWA PASCA KECELAKAAN REFORMASI

REKONSILIASI PARADIGMA PEMUDA DAN MAHASISWA PASCA KECELAKAAN REFORMASI

Era Reformasi Pembangunan mestinya menjadi pencerahan baru bagi bangsa Indonesia dalam merencanakan proses sejarah kehidupan, pencerahan baru karena akan memulai sesuatu dari titik yang bernama “Millennium Development Goals (MDGs” atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi tujuan pembangunan milenium. Dalam memasuki tahun ke 17 reformasi masalah mendasar belum tuntas dikaji dan dianalisis seperti masalah Hak Asasi Manusia, lingkunag hidup dan demokratisasi.

Ini menggambarkan kepada kita, bahwa umat manusia dari waktu kewaktu selalu menyisahkan berbagai problem hidup yang besar, jika tidak disadari suatu saat akan mengancurkan peradaban manusia itu sendiri. Kehancuran tersebut berupa kehancuran moralitas kemanusiaan, rusaknya lingkungan hidup dan masalah-masalah yang semakin dahsyad.

Tanda-tanda ini ini dapat kita lihat di dalam negeri kita sendiri telah terjadi suatu kesadaran untuk lepas dari suatu belenggu kekuasaan yang otoriter. Kata kunci reformasi terus bergulir dan mengalir bagaikan air bah, reformasi itu telah menjadi slogan aktifitas sehari-hari dilingkungan masyarakat. Semua orang rasanya tidak akan merasa enak apabila tidak menyebut kata reformasi dalam sebauh diskursus yang dilakukannya.

Namuan demikian, ada realitas-realitas konflik sosial dan konflik politik terutama di antara elit politik kita sendiri. Kondisi ini langsung ataupun tidak langsung menjadi cikal dari terjadinya polarisasi gerakan mahasiswa dan pemuda yang menyertai proses dan perjalanan reformasi. Perlu dicatat kemudian bahwa gerak laju realitas tersebut, ternyata menjadi kendala yang tidak ringan. Bahkan dalam beberapa hal terkesan sangat berat. penulis menyebut hal-hal yang bisa menjadi kendala serius bagi masa depan reformasi kita itu. Meminjam bahasa anas Urbaningrum sebagai ranjau-ranjau reformasi atau bahasa A. said” Hantu-Hantu reformasi” sesuatu yang harus kita waspadai dengan sepenuh hati.

Perkembangan reformasi pasca lengsernya Suharto sebagai gerbang reformasi sangatlah memprihatinkan. Kelompok zaman baru yang populer dengan era reformasi ini ternyata tidak segera memberikan optimisme akan lahirnya tindakan baru yang terjadi. Idealitas kita bahwa Indonesai akan nglungsungi (proses penyucian jiwa sehingga lahir manusia dengan jiwa dan semangat yang baru dan kesadaran baru) setelah masuk kawah candra dimuka reformasi, nyatanya tidak bisa menghindar dari realitas empirik yang dalam banyak hal, amat pahit. Ada parade konflik partai politik dan antar lembaga negara, issu terorisme, ketidakstabilan rupiah yang berimbas pada krisis ekonomi yang berkepanjangan, ketidak stabilan hukum, dan yang paling spetakuler adalah kebijakan-kebijakan para menteri kabinet kerja yang tidak populis hingga menyebabkan “pusing pala berbie” tengah menyelimuti pemerintahan Jokowi-JK, yang notabene sebagai pemegang amanat agenda-agenda reformasi.

Konsekwensi logisnya adalah “reformasi belum selesai” karena itu mahasiswa dan pemuda sebagai bintang lapangan dalam dinamika reformasi dituntut untuk sanantiasa konsisten dan komitmen mengawal sampai ketujuan. Namun sayang mahasiswa dan pemuda sebagai salah satu pilar utama reformasi, harus diakui tengah mengalami kelesuan disana-sini dengan ditambah lagi persoalan polarisasi yang memecah belah keutuhan gerakan, paling tidak menenjak lengsernya Suharto sebagai “Common enemy”. Sebagaimana diuraiakan kajung Marijan, “Visi orientasi termasuk target perjuangan dan metode mencapai target yang berbada”, kemudian kasat mata terlihat dipermukaan.

Jadilah gerakan mahasiswa tercerai berai kembali. Tragisnya, apa yang diperjuangkan para aktifis mahaiswa itu, yaitu bangunan nyata Indonesia baru yang demokratis, belum tercapai. Di dalam menyikapi realitas demikian, para mahaiswa dan pemuda lalu terbawa friksi yang tak kalah dengan friksi yang terjadi dilingkaran elit politik.

Kemudian, untuk menjaga stabilitas gerakan dalam koridor “moral force”, maka orientasi kemahasiswaan dan kepemudaan adalah sebuah bentuk sosio-aspiratif yang tercermin dalam status dan dimensi kemahasiswaan dan kepemudaannya, karenanya organisasi kemahasiswaan dan pemuda akan sangat erat kaitannya dengan tiga bentuk alam kehidupan sebagai satu kesatuan. Ada beberapa postulat yang mesti di quote oleh mahasiswa dan pemuda pasca kecelakaan reformasi dalam rangka meniti lintas hari depannya secara gemilang, sukses dan adaptif dengan nafas zaman.

Pertama, merubah organisasi dari kecenderungan elitis ke populis, paradigma elitis ini hendaknya dapat dirubah seiring dengan semakin tidak populernya elitis organisasi dalam wacana Indonesia baru yang lebih popular di mata rakyat. Saatnya kesan-kesan elitis organisasi kemudian dirubah menjadi lebih populer dengan kemampuan mahasiswa dan pemuda yang membangun kekuatan civil society ditingkat grass roots dengan wacana intelek tual yang lembih mumpuni.

Kedua, sinyalemen semakin tidak populernya mahasisawa dan pemuda di tingkat presure merupakan sebuah realitas bahwa paradigma elitis politis nampaknya kurang marketable dikalangan mahasiswa dan pemuda.

Dengan demikian untuk mendaratkan kembali organisasi kemahasiswaan dan kepemudaaan sekaligus kampus sebagai basis strategi, maka mahasiswa dan pemuda harus mampu menempati diri (match in) secara cerdas dan mampu memilih dan memilah kegiatan-kegiatan organisasi secara selektif sehingga popularitas di kalangan mahasiswa dan pemuda kembali mendapatkan kepercayaan publik, saatnyalah organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan harus mampu mengartikulasikan perjuangan mahasiswa dan pemuda secara lebih rill dan tetap mengedepankan idealisme dan mendasarinya pada kekuatan logika.

Abdussalam Bonde

Penulias adalah mantan ketua KPMIBM Cabang Kota Gorontalo kini mahasiswa pascasarjana kebijakan publik di UWPS.

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *