Dumoga: Negeri Kaya, Negeri Ngeri, Negeri Bogani dan Para Pemberani (III)

Dumoga: Negeri Kaya, Negeri Ngeri, Negeri Bogani dan Para Pemberani (III)

Sejak lokasi galian yang dinamai Teluk di rimba Dumoga geger oleh berita ditemukanya lubang galian dengan kadar emas tinggi, (para penambang di Dumoga menyebutnya: lubang kancang) maka sejak itu pula wilayah tersebut menjadi pusat mimpi orang-orang yang ingin merubah nasib berbondong-bondong kesana dengan membentuk group baik itu karena keterikatan pertemanan mapun ikatan se-kampung.

Karena tahu bahwa sudah ada kelompok lain yang mula-mula merintis dan menguasai lubang galian tersebut, ditambah lagi informasi bahwa mereka itu bukan penambang kelas daong lemong, maka dipersenjatailah diri dengan beragam benda tajam penantang maut yang dibalik itu tersimpan maksud gelap ingin menguasai lubang rebutan itu dengan cara apapun termasuk baku potong apabila upaya diplomasi tidak berjalan. Sebagai contoh jika ada lubang dengan kadar emas tinggi, maka lubang itu akan jadi rebutan. Kelompok pertama yang menguasai lubang galian ini akan menjaga lubang tersebut dari gangguan kelompok lain tak hanya dengan raga melainkan nyawa. Lubang akan dijaga oleh para “pendekar samurai” yang tak sungkan-sungkan menyembelih leher siapapun yang datang menguasai. Kecuali jika mereka tunduk dibawah peraturan kelompok pertama semacam adanya giliran (antri) untuk memasuki lubang agar sesama penambang bisa saling hidup-menghidupi.

Saat perang rebutan minyak antara Irak melawan Kuwait yang dibantu Amerika Serikat dan sekutunya bergolak di Kawasan Teluk, ketika itu pula konflik kepentingan di Dumoga sedang bergejolak. Tak heran salah satu kawasan lubang galian yang menjadi sumber sengketa  dinamai para penambang sebagai Kawasan Teluk yang memiliki lubang galian dengan kandungan emas tinggi. Di kawasan Teluk, nyawa orang tidak berharga sama sekali.

Emas memang panas dan memicu pertikaian sama halnya dengan perang rebutan minyak antara Amerika Serikat dan Irak di era 90-an.  Keengganan kelompok lain untuk menuruti aturan ini menjadi pemicu konflik antar penambang yang berhasrat menguasai. Seperti koboi-koboi tak berkuda, mata merah mulut bau alkohol, kelompok ini beringas memasuki belantara. Di pinggang mereka bukan revolfer, melainkan badik dan tangan mereka memegang samurai siap memenggal leher dan menebas tubuh siapa saja yang berani menghalangi tujuan mereka; Emas!!Gold Glory Gold!

Mereka dijuluki Ninja sebab dianggap penyusup. Apalagi saat beroperasi sebagian besar dari kelompok ini menutupi wajah mereka. Biasanya mereka datang dengan kekuatan yang lebih besar dan tak kalah brutal.  Tujuan para Ninja dengan senjata samurai ini adalah menyerobot antrian. Jika sudah begitu maka adegan seperti dalam pelem Saur Sepuh, The Last Samurai, dan  Xena The Warrior Princess akan terjadi hingga menyisakan berita kematian dikedua-belah pihak setelah saling tebas.

Semua itu adalah hal biasa di lembah Dumoga yang liar dan keras. Hukum yang dipakai adalah hukum rimba. Tak ada pihak korban yang keberatan dan melapor ke Polisi. Tak  ada dendam yang dibawa turun ke kampung. Semua akan diselesaikan lewat “hukum adat rimba”. Mereka bertarung di arena tambang. Meski akhirnya, seiring waktu berjalan, perkelahian di lokasi tambang dibawa turun ke kampung sehingga tak heran, kejadian-kejadian tarkam di Dumoga nyaris bosan kita dengar. Kesepakatan “adat” yang menyebutkan tak boleh membawa-bawa masalah yang pecah di lokasi tambang turun ke kampung, urung terjaga.

Namun demikian bukan berarti di semua lubang galian terjadi perkelahian tatkala semua kelompok tunduk pada aturan antri. Tidak semua lubang galian juga berkadar emas tinggi. Di galian yang kadar emasnya rendah adem-adem saja. Bahkan konon ada kawasan yang disebut Panta Putih. Ini semacam kawasan tanah lapang yang difungsikan kepada para penambang yang sayang nyawa. Artinya, ketika terjadi sengketa antar grup penambang, bagi para penambang yang netral dan tak mau terlibat baku potong dan kubu-kubuan, segera mengambil posisi ke kawasan Panta Putih agar nyawa tak melayang. (Panta adalah bahasa setempat yang jika disalin ke Bahasa Indonesia artinya, Pantat atau Bokong).

Masa kejayaan para penambang di Dumoga meledak di era 90-an. Banyak orang tak kenal tua-muda, dari yang sudah beristri maupun bujang, dari status ekonomi yang tak berpunya, menjadi berpunya; Motor keluaran terbaru, kemeja dan celana blue jeans baru lengkap dengan sepatu keren model baru, jaket kulit,  atau yang berbahan jeans, membeli parabola, laser disc, home teater, dan segala pernak-pernik entertaint untuk hiburan dirumah yang baru pula direhab atau baru di bangun secara permanen. Pendek kata, rimba Dumoga telah memberi mereka kesejahteraan hidup, sikap royal (juga hura-hura) dan Filantropi. Meski pada akhirnya masa kejayaan itu terengut dan tergilas roda jaman dan waktu yang berputar bengis kencang, meruntuhkan apa yang pernah dimiliki dan melahapnya hingga tinggal sobekan kisah tua yang manis terselip dibalik blue jeans kumal dan mengerang dibekas jahitan luka dihampir sekujur tubuh para  Ninja dan veteran Teluk.

Saya masih ingat karena pernah mengalami langsung bagaimana para Ninja dan penambang di Dumoga turun ke Kota (Kotamobagu) dan pica kongsi (bagi hasil  penjualan emas) di sini. Mereka memborong isi Toko dan menyuruh siapa saja yang lewat di depan mata mereka saat berbelanja untuk mengambil sesuka hati barang dagangan yang dijual. Mereka seolah menyatakan diri : “Ini kami para Ninja dari lembah Dumoga. Silahkan pilih, kami yang bayar, kami punya banyak uang!!”.

Pernah suatu ketika di penghujung tahun 1994, mereka tiba di pusat kota di mana saya dan beberapa teman yang masih mengenakan seragam putih abu-abu berada di emperan toko yang hanya bersebelahan dengan rumah makan Minang. Saat para penambang ini masuk, terdengar oleh kami dari luar lengkingan suara dari salah seorang diantara mereka : “Ator akang makanan harga 3 juta!”.   Amboy, hanya 6 orang dan mereka minta dihidangkan menu dengan patokan harga 3 juta ketika kurs dollar waktu itu adalah Rp 1.500 per dollar. Sebuah kesombongankah, olok-olok, sikap royal, atau pernyataan diri bahwa; kami bukan begundal-begundal yang tak punya uang, jika selama ini kalian memandang kami sebelah mata, sekarang saatnya layani kami, semua menu yang ada di rumah makan ini angkat dan taruh di atas meja.

Nampak para pelayan sibuk tak tahu bagaimana harus menghidangkan menu berpatok Rp 3 juta untuk 6 orang Ninja. Pemilik rumah makan Minang juga nampak sibuk dengan kalkulator yang sebenanrnya tak bergunan sama-sekali sebab tengoklah, segala menu sudah dihidangkan, bir juga sudah dijejer di meja, tapi belum juga menyentuh angka Rp 3 juta. Salah seorang dari mereka keluar. Matanya merah, mulut beraroma alkohol, dan tatto melingkar di lengannya yang ada bekas luka, tampang sangar.

Kami di seret satu persatu ke dalam, tapi karena harga patokan harus genap Rp 3 juta, sekitar 20-an anak SMA di emperan           Toko    yang    tentu    kelaparan         ikut      pula     diboyong         kedalam. Setelah makan dengan kenyang, kami digampar rokok per orang dua bungkus, lalu dikasih beberapa lembar uang yang cukup membuat masing-masing dari kami bisa mentraktir teman-teman di kantin sekolah selama 3 hari berturut-turut. Masih kuat pula ingatan ini membayangkan adegan para Ninja menghambur-hamburkan uang dijalan membagikan kepada orang-orang yang lewat yang membuat mereka tak ubahnya seperti Robin Hood.

Dumoga Menuju Bolteng

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Dumoga memberi simpulan catatan tersendiri bagi rakyatnya. Seperti merupakan suatu keharusan, pihak-pihak berkepentingan di Dumoga mulai menggelorakan isu pemekaran demi terselenggaranya upaya penataan dan pengelolaan Dumoga dengan lebih baik. Upaya yang sempat diwarnai gelombang demonstrasi oleh rakyat Dumoga bersatu di Kantor DPRD Bolmong menghasilkan pemekaran Dumoga menjadi 4 Kecamatan.

Tak cukup dengan itu, saat ini Dumoga kembali “bergolak”. Seolah mengikuti jejak 5 saudara kembarnya (Bolmong, Boltim, Bolsel, Bolmut, Kota Kotamobagu), negeri lumbung padi ini menuntut diadakanya pemekaran dalam rangka pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng). Presidium Pemekaran terbentuk. Tim Verifikasi sudah turun. Apa selanjutnya??

Sambil menunggu babak berikut, ada berderet harapan dan keinginan yang hendak kita buncahkan ke negeri Mokodoludut, negeri Manggopa Kilat, Salamatiti dan Silagondo. Negeri yang kini dihuni beragam suku (multi-etnis) yang saat ini masih tetap setia mempertahankan kedamaian dan ketenangan dalam konteks persaudaraan dan hidup berdampingan yang senantiasa terjaga. Sekalipun iklim sosial dan stabilitas di Dumoga bisa tiba-tiba cepat “panas” dan “meledak” bahkan untuk hal-hal kecil saja. Kita hilangkan imej yang tersemat di Dumoga sebagai negeri brutal, negeri para geng, koboi-koboi mabuk, ahli pedang dan tukang bakalae. Kita jauhkan dari imej negeri yang mengutamakan hukum rimba sebagai jalan keluar dalam menyelesaikan perkara. Kita jaga imej lumbung padi nan damai tentram tetap terjaga sebagai jalan menuju Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng) seperti yang di-idam-idamkan rakyat Dumoga saat ini. Dumoga adalah negeri para Bogani. Negeri para pemberani yang di negeri indah nan kaya inilah pertama kali berdiri kerajaan Bolaang Mongondow dibawa tampuk kepemimpinan Datu Mokodoludut. Jangan jadikan Dumoga menjadi Negeri Ngeri….(*) Habis

Oleh : Uwin Mokodongan.

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *