Dumoga: Negeri Kaya, Negeri Ngeri, Negeri Bogani dan Para Pemberani (I)

Dumoga: Negeri Kaya, Negeri Ngeri, Negeri Bogani dan Para Pemberani (I)

Dumoga yang kini terbagi menjadi 4 wilayah kecamatan (Timur, Barat, Selatan, Utara), adalah wilayah kaya sekaligus “panas” yang terletak di tengah-tengah Kabupaten Bolaang Mongondow tatkala belum dimekarkan menjadi 4 wilayah Kabupaten (Bolmong, Boltim, Bolsel, Bolmut) dan 1 Kota (Kotamobagu).

Bolaang Mongondow (Bolmong) bahkan dikenal dengan julukan lumbung padi karena keberadaan wilayah gemah ripah loh jinawi ini.

Di level internasional, Dumoga bahkan diklaim sebagai kawasan paru-paru dunia yang turut berperan dalam menjaga keseimbangan ekologi dan iklim dunia karena keberadaan kawasan konservasi; Taman Nasional Dumoga Bone, atau yang kini  berganti nama menjadi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNWB).

Di Mongondow, Dumoga selalu penting dan menarik dibicarakan bukan semata karena ada Taman Nasional dan beragam kepentingan yang “panas” disini.  Tak hanya soal kandungan emas di Teluk Toraout atau di Superbusa yang sejak era 90-an menjadi pusat mimpi (tak hanya) orang Mongondow yang berbondong-bondong datang ke wilayah ini bermodalkan nyali, samurai, cakram, tombak dan aneka benda tajam lainya (konon ilmu kekebalan tubuh), karena ada mimpi kesejahteraan disini. Bongkah-bongkah mimpi yang akan merubah nasib dari kere menjadi royal, dari melarat menjadi berada, seperti Cebol (nama julukan), Juma atau Aske Giroth. (3 orang Dumoga suku Minahasa yang berhasil dalam usaha tambang tradisonal. (Satu diantaranya bahkan sekarang duduk sebagai Anggota DPRD Bolmong dari Partai Golkar).

Saat ini Dumoga semakin menarik sebab sederet stakeholder di wilayah lumbung beras ini tengah bersemangat dalam euphoria pemekaran dan cita-cita pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng) mengikuti 4 saudara kembarnya; Boltim, Bolsel, Bolmut, dan Kota Kotamobagu.

Pemekaran dan pembentukan Bolteng ini malah disebut-sebut sebagai prasyarat untuk melengkapi terbentuknya cita-cita yang lebih besar yakni Propinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR) sebagaimana pula yang tengah digaungkan saat ini oleh para pemukanya termasuk mantan Wakil Gubernur Sulut asal Bolmong; Abdullah Mokoginta,

Dumoga Dimata Pemerintah Pusat

Betapa pentingnya Dumoga di mata pemerintah Indonesia sehingga dengan mengatas-namakan rakyat Indonesia, berhutang ke rentenir kelas wahid bernama World Bank (Bank Dunia) sebesar 60 juta dollar AS untuk pembangunan Proyek Irigasi Dumoga yang menghasilkan Bendungan Touraut dan Kosinggolan. (lihat G.J. Aditjondro, “Nasib penduduk asli Mongondow di Sulawesi Utara”, Suara Pembaruan, 4 Desember 1992).

Tak hanya itu, pada penghujung 80-an,  B.J. Habibie yang ketika itu masih menjabat sebagai menteri melaksanakan pembangunan SMTP (Sekolah Menengah Teknologi Pertanian) Mokintob yang nasibnya kini tinggal cerita dan sisa-sisa puing bangunan gedung yang murung bak pusara yang telah bertahun-tahun terlantar.

 Dumoga Jaman Mokodoludut

Dalam mitologi Mongondow ada cerita yang mengisahkan soal kemunculan Punu’, Datu, atau Raja pertama di jazirah Bolaang Mongondow, yakni Mokodoludut. Mitos ini mengisahkan soal bagaimana sepasang suami istri bernama Kueno dan Obayow di Sungai Ongkag menemukan bayi yang masih terbungkus ari-ari hingga mirip seperti telur. Terlebih lagi kedua pasang Suami Istri ini melihat ada se-ekor burung (mungkin Maleo sebab habitat Maleo umumnya didaerah dekat sungai dan berpasir) di dekat bungkusan ari-ari itu sehingga dikira itu adalah    telur  burung.

Saat pasangan suami-istri ini mendekat, burung itu terbang menghindar dan setelah diperiksa ternyata ada seonggok bayi yang terbungkus kantong ari-ari. Sontak suami-istri ini mengambil dan membersihkan bayi itu di Sungai dan dibawa ke tempat tinggal mereka di bukit Bumbungon (sekarang bukit ini disebut bukit keramat oleh warga setempat/ Desa Bumbungon Dumoga Barat).

Malamnya, tatkala bayi ini dibawa ke Tudu In Bumbungon atau Puncak Bukit Bumbungon, terdengar bunyi guntur dan kilat bersahut-sahutan di langit, kemudian turun hujan lebat. Konon terdengar pula bunyi semacam hentakan langkah yang datang beruntun dari segala penjuru yang dalam bahasa Mongondow disebut doludut. Bunyi ini dipercaya berasal dari langkah para Bogani (manusia yang digambarkan kuat dan keramat pemimpin setiap wilayah pedukuan yang tersebar di Bolmong) yang gempar tatkala mengetahui kelahiran seorang bayi yang bakal menjadi pemimpin nanti. Oleh sebab itu bayi ini dinamai Mokodoludut, yang  berarti sebuah kehebohan atau kegemparan oleh adanya suatu peristiwa.

Berdasarkan kesepakatan para Bogani yang menggelar keputusan di Tudu In Bumbungon inilah, tatkala dewasa, Mokodoludut diangkat sebagai Punu’ atau Raja Bolaang Mongondow atau dalam bahasa Mongondow disebut; Si nompunu’  (Diangkat menjadi Raja) hingga turun temurun sampai ke masa Punu’ Tadohe. Bersambung

Oleh : Uwin Mokodongan.

Komentar Facebook

Komentar

Berita Terkait

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *